Penggoda (Memoirs of ….)

Bilamana sebuah tatapan sorot mata seorang wanita telah bisa menghentikan langkah seorang pria, itu adalah tanda engkau telah lulus tes awal jadi geisha, demikian dikatakan seorang geisha senior pada Sayuri, gadis manis dari kampung pesisir yg “dilepas” oleh orang tua nya yg miskin pada sebuah rumah geisha ( wanita penghibur-jepang)

Betapa banyak akhirnya lelaki yg bergelimpangan terkena bidikan “tatapan maut” nya, setiap lelaki yg takluk adalah kebahagian tersendiri bagi sang geisha. Memang demikianlah mereka dilatih sesuai kultur jepang di jaman dulu. Tak pernah terpikir oleh mereka, betapa banyak lelaki yg hanya bisa menelan air liur karena hanya bisa terimingi imingi, tapi tak bisa memilikinya. 

Kebahagiaan tertinggi seorang geisha ialah bisa hidup mewah dan glamour, menjadi gundik seorang tuan yg kaya raya, walau tanpa cinta sekalipun. Mereka tak sadar bahwa seorang geisha yg berharap perhatian penuh dari tuan nya , adalah bagaikan tikus yg mengharap simpati dari ular. 

Ia merasa lebih bahagia seperti itu, daripada hidup miskin di desa yg terpencil. Mereka memiliki cara pandang terrsendiri mengenai visi kehidupan, harga diri dan moralitas, walau hakikatnya dia tak bisa lagi memilih takdir hidupnya sendiri. Tak banyak yg sadar betapa di usia tuanya mereka akhirnya menjadi nenek2 penyendiri yg terbuang. 
Padahal sempat diceritakan betapa saat kecilnya , dia adalah anak gadis yg lucu dan cantik, dengan pandangan masa depan yg cerah dan jadi kebahagiaan setiap orangtua. Namun ternyata masa tuanya sungguh suram jadinya. Demikian sedikit cuplikan dari buku Memoirs of a geisha, yg bercerita ttg wanita penghibur jepang sebelum perang dunia. 

Lain lagi cerita dari buku Memoirs of Casanova, lelaki penggoda dari Venice, Italia di abad ke 18. Giacomo Casanova, anak seorang seniman, dari keluarga berada, ia besar di kota Venice,ia cukup pintar juga sampai bisa menamatkan perguruan tinggi. Selain pintar ia dikarunia pula penampilan fisik yg membuat setiap wanita terpesona karenanya. Selepas menamatkan kuliahnya ia bekerja di berbagai jabatan yg cukup strategis, selain itu ia pun banyak bepergian ke berbagai kota besar di Eropa. 

Tampan, cerdas, pintar ngomong dan memegang jabatan penting, membuat ia banyak digandrungi wanita. Mendapatkan karunia tersebut Casanova pun memanfaatkan nya sebesar mungkin, ia menjadi penggoda wanita yg paling lihai saat itu. Banyak wanita yg tergoda karena nya, mulai dari gadis muda, sampai istri2 pejabat. Ia pun pandai menulis dan membuat beberapa buku, antara lain tentang cerita hidupnya, dimana ia begitu bangga bercerita telah berhasil menaklukkan 127 wanita. 

Namun walau telah berhasil menaklukkan banyak wanita, ia begitu gamang ketika cintanya ditolak oleh seorang wanita cantik yg tak kalah pintarnya, Henriette, seorang anak bangsawan Perancis. Tingkah laku amoral Casanova, diketahui pula akhirnya oleh otoritas agama dan tokoh masyarakat. Banyak orang juga akhirnya membencinya, antara lain keluarga wanita2 yang pernah disakitinya. Sehingga Casanova terpaksa banyak berpindah2 tempat di berbagai kota Eropa sekitar abad 18, yang malah menambah warna warni petualangan cinta nya.

Sampai di masa tuanya ia tak pernah secara resmi menikah. Di akhir hidupnya ia bekerja di sebuah perpustakaan tua dan menyalurkan hobby menulisnya, antara lain menulis buku cerita diri nya, memoirs of Casanova. Dalam buku tersebut ia begitu membanggakan masa muda nya, namun ia menulis semuanya dalam kesendirian di tempat sepi, tak ada keluarga yg menungguinya. Sampai akhirnya naskah bukunya ditemukan pula oleh kerabat jauhnya. 

Cerita2 dari buku2 memoirs tsb, berdasarkan pada kisah nyata, melengkapi berbagai kisah serupa dalam sejarah, sebagaimana hal nya cerita don Juan dari Spanyol, Cleopatra dari Mesir sampai cerita Arjuna dalam pewayangan.

Wanita atau pria yg tergila2 dengan orang seperti itu, perlu berhati hati, karena hakikat nya mereka tak bisa memberikan hati nya pada seorang pun, mereka seolah2 membuka semua pintu hatinya, padahal sebenarnya tak ada seorang pun yg bisa memilikinya. Ada sebuah pepatah kuno , “janganlah engkau sampai jatuh cinta pada gadis penghibur” , karena walaupun ia tersenyum pada mu, engkau tak bisa meraih hati nya, yg telah tercerai berai pada banyak orang. 

Dalam buku psikologi sosial ada dijelaskan bahwa lelaki atau wanita penggoda seperti itu pada hakekatnya secara kejiwaan mengalami kekosongan di dalam jiwa nya. Mereka selalu ingin diperhatikan orang lain, bila tidak ia akan sengsara karenanya. Mereka cenderung narsis ( memuja diri sendiri ) dan tak menghiraukan orang lain.Tampaknya saja mereka bahagia dikerubuti orang banyak, padahal sebenarnya ia mengalami kesepian karena hati nya tak tertambat kemanapun. 

Banyak lelaki atau perempuan yg terobsesi ingin pula berpetualangan seperti Casanova atau geisha cantik tsb, namun mereka tak sadar bagaimana kepedihan di akhir hidup mereka. Sejarah menuliskan betapa orang2 penggoda seperti itu, yg banyak menelantarkan pria/wanita yg terkena bujuk rayu nya. Di masa tua nya mengalami hidup yg tak bahagia, kawin cerai, keluarganya berantakan, bahkan banyak yg mati kesepian di usia tua nya, hukum karma berlaku kata orang, karena kelakuan nya yg banyak membuat orang lain sakit hati. 

Begitu tipis batas antara cinta dan nafsu, kisah2 diatas adalah gambaran tentang orang2 yg dorongan nafsu menjadi arahan hidup nya, kalau manusia tujuan hidupnya karena dorongan nafsu semata, tak tampak kelebihan seorang manusia dibanding seekor ayam jago yg tak bosan2 nya mengejar setiap ayam betina yg ditemuinya. Manusia hidup ke dunia ini dengan maksud yg mulia, sungguh suatu kesia sia an, menghabiskan umur dalam gelimang hawa nafsu belaka. Karena gelimang nafsu yg begitu menggoda, orang tak sempat lagi menapaki hakikat cinta yg suci dan mulia, cinta sejati akan bisa memberi pencerahan perjalanan hidup ini, namun hanya sebagian orang yg bisa meraihnya.

Demikianlah kesimpulan yg bisa dirangkum setelah menamatkan berbagai buku berkaitan dengan cinta seperti buku2 tersebut diatas. Deni, pemuda yang pintar dari kota kecil yg bekerja di Jakarta. Akhirnya bisa menemukan jawaban untuk mengobati luka hatinya, karena pujaan hatinya, gadis manis teman sekantornya dari bagian sales, yg sempat membuat hatinya terhanyut, ternyata begitu mudah nya pindah ke lain hati. 

Setelah patah hati, ia banyak menyendiri, antara lain pergi ke toko buku atau perpustakaan, sekedar baca2 membuang kerisauan, sebagaimana sering ia lakukan selama ini. Sampai akhirnya ia membaca secara ringkas buku2 lama tersebut,seperti : memoirs of a geisha, Casanova, Don juan ,Cleopatra dan beberapa buku lain, yang jadi semacam referensi politik, seorang teman nya dari Partai Pengemis Cinta.

Si Deni pemuda yang rajin membaca buku, berasal dari sebuah keluarga sederhana di kota kecil, begitu menghargai perasaan dan persahabatan. Ia beranggapan semua cinta tulus adanya, sebagaimana ia sering baca sebelumya dalam roman2 sejarah seperti buku Siti Nurbaya. Ia menganggap setiap wanita adalah bagaikan si Neneng, gadis jujur anak pak Haji , kembang di kampung nya, pujaan hatinya dulu, yg gagal juga ia persunting karena keburu direbut pemuda lain yg lebih kaya. 

Ia baru sadar, di kota besar seperti Jakarta, arti cinta yg selama ini ia fahami telah berubah sesuai dengan hembusan angin materialisme kapitalis yang menyelusup jauh sampai ke lubuk hati yg terdalam, termasuk dalam urusan cinta yg telah terdegradasi materi. 

Ia baru sadar betapa jauhnya , arti senyuman manis seorang gadis sales-marketing dengan senyuman tulus malu2 dari gadis jujur di kampung nya dulu. Walau ia punya cinta yg tulus dari dalam lubuk hatinya, namun itu semua tak ada artinya bagi seorang cewek matere, yg silau bila melihat credit card platinum atau mobil mewah. 

Tampilan fisik yg menawan dan juga cinta, adalah anugerah bagi kita semua, namun cinta yang hakiki adalah jauh lebih bermakna daripada sekedar tampilan fisik belaka. Sekarang ia bisa memilah dengan baik , mana tatapan mata yg bening dengan kerlingan mata menggoda yg menjerumuskan. Mana senyuman tulus, mana pula senyuman gaya sales yg materialistic. Mana obrolan halus yg suci, mana pula obrolan merdu yg menjebak. Sungguh merendahkan diri, terjebak menjadi pengemis cinta pada makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Indah.

Kecantikan / ketampanan sejati terletak dalam kesucian hati. Dibanding tampilan fisik kita, yg berasal dari tanah di bumi ini, hati adalah anugerah dari langit. Cinta dari hati adalah suatu yg suci dan mulia, dalam naungan Pencipta kita semua Yang Maha Mulia.

selengkapnya ; http://hdmessa. wordpress. com/2008/ 02/19/dari- geisha-sampai- casanova/

 

1 Comment »

  1. Berilah hamba pemahaman,, tentang kerendahan menjadi pengemis/penista cinta pada ciptaanMu yang semuanya indah, Tuhanku.

    Comment by Kemal — June 23, 2008 @ 8:44 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.