Sekolah Murah?
Murah, mahal itu persepsi yang ada di otak. Angka besar dan kecil itu fakta yang kita liat dalam realitas. Tetapi kalau otak ini kita set bahwa SEKOLAH ITU MURAH, maka akan kita akan membelanjakan untuk sekolah terasa tidak seberat kalau program si otak ini mengatakan sekolah itu mahal.
Secara naluri kita menghindari yang mahal (tidak enak) dan mencari yang murah (enak). Kalau sekolah sebagai cost dan hasil setelah bekerja sebagai benefit, maka keuntungan setelah sekolah itu besar … artinya SEKOLAH ITU MENGUNTUNGKAN ! Tapi bisa menjadi sulit kalau akhirnya diplesetkan menjadi …. “sekolah hanya untuk yang beruntung”

Gambar 1

Gambar 2
Gambar 1 memperlihatkan perbandingan biaya pendidikan dengan penghasilan. Semakin kecil penghasilan tentusaja biaya pendidikan juga mengecil. Namun penghasilan yang membesar tidak selalu proporsional dengan pengeluaran biaya pendidikan (sekolah). Biaya sekolah itu ada batasnya sedangkan besarnya penghasilan itu bisa dianggap tidak terbatas.
Kalau kita mencoba mengamati secara general, bukan detil, maka gambar 1 ini dapat dipakai. Jadi semstinya melihat median atau harga tengah di dalam keberagaman Indonesia, semestinya masyarakat Indonesia ini mampu menyekolahkan anaknya.
"Jika orang kota menghabiskan 4,27 persen dari pengeluaran per kapita dalam sebulan untuk pendidikan, orang desa hanya 2,27 persen dari konsumsi bulanannya. Mayoritas penduduk di desa memiliki besaran pengeluaran Rp 100.000 hingga Rp 149.000 sebulan. Sementara penduduk di kota lebih besar pengeluarannya, yaitu pada rentang Rp 200.000 hingga Rp 299.000 (Kompas)"
Pelit amat mengeluarkan uang pendidikan buat anaknya sendiri saja kurang dari 5% konsumsi. Yang lebih mengagetkan lagi angka yang kurang dari 5% inipun bukan dari penghasilan tetapi dari belanja (konsumsi) bulanan. Lah gimana pengeluaran dari konsumsi yang tidak produktip misalnya merokok? Tidak hanya masyarakatnya tetapi juga akhirnya tercermin dalam anggaran pemerintah (APBN), tapi tunggu dulu menurut Sri Mulyani, APBN 2007, anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 11,8 persen, Nilai ini setara dengan Rp 90,10 triliun dari total nilai anggaran Rp 763,6 triliun. Jadi pemerintah justru lebih memikirkan pendidikan ketimbang masyarakatnya yang tidak sampai 5%.
Yaaa bagaimana mau maju dan menjadi bangsa yang pinter, semua aspek baik pemerintah dan masyarakatnya sendiri tidak konsern pada pendidikan anak bangsa.
(Anonymous, 2007)

